TERBARU

Kita diciptakan Allah sengan bahan material yang sama satu sama lain, tidak ada yang beda sama sekali yang membedakan adalah Amalan kita sewaktu kita di berikan kesempatan untuk hidup ini, maka jangan sia-siakan HIDUPMU

Sabtu, 07 Desember 2013

[catatan langakah seorang akhwat] Di Kaki Langit Jawa, part 3. “Bagai Hutan dan Hujan.”

Sepanjang jalan ingat celotehan kami—E kuadrat—tentang ini dan itu, kalo begini ya begitu, ko gitu…. coba kalo gini jadinya kan gitu…. Sekarang bagi kami lirik-lirik yang sedih sekalipun akan kami ubah semaunya agar menyenangkan.
***
Semangat masih menyala. Berat rasanya meniggalkan Ranu Kumbolo yang tak ada tandingannya. Di sebrang sana tak kalah angkuhnya tanjakan itu berdiri. Katanya itu tanjakan cinta. Mungkin selama melewatinya akan sangat butuh pengorbanan, dedikasi tinggi, dan cukup menguras energi dengan wajah penuh ekpresi. Dari kejauhan terlihat pendek, tapi semoga saja kami bisa sampai di pucuk tanjakan.
Puas seperti ingin merayakan kebebasan di atas batu besar dan menghela udara segar di Ranu Kumbolo. Ternyata Isma hendak pergi dengan kakak-kakak itu entah kemana. Bang Ade mengajakku. Aku bilang aku akan menyusul dengan cepat, tapi ternyata mereka menunggu. Segera turun dari batu besar itu dan menyusul mereka. Yang lain masih foto-foto, akhwat menyiapkan sarapan, dan ikhwan malah berhamburan ke danau.
Aku, Isma dan kakak-kakak itu menelusuri danau ke arah utara—kalo tak salah itu arah utara. Duduk-duduk di atas pohon tumbang dan berjalan lagi ke hamparan rumput kering. Seperti biasa aku tak ingin melewatkan kayu angin yang begitu kuat menggantung di antara batang-batang tua itu. Usianya mungkin sudah belasan tahun bahkan mampuh melapukkan pohon kuat manapun. Jadi jangan diremehkan, termasuk tanjakan yang terlihat pendek itu.
Aku dan Isma, he—sepertinya kami berdua harus mengasingkan diri. Ada tempat yang lebih menarik. Ada batu besar yang ternyata lebih besar dari batu sebelumnya. Kami berdua biasa-biasa saja, seolah tak pernah melewati malam panjang itu. Merekahkan tawa dan semangat lagi. Tak lama seseorang memanggil kami untuk kembali ke kemah. Rupanya sarapan sudah siap. Isma, Eni dan aku sarapan tepat di pinggir danau, sepiring bertiga dan menu penutupnya adalah jelly—tak perlu sebut merk, meskipun itu satu-satunya merk yang selalu kami cari. Sebenarnya ragu memakan jelly sepagi ini tapi akhirnya dilahap juga.
Merapikan kembali perlengkapan setelah sarapan pun lewat. Tak lupa mengisi air dari danau untuk bekal selama ke Kalimati. Aku dan Eni pun sadar, jiwa kebabuan kami akhirnya mucul. Yang jago masak, memasang tenda, navigator ulung, expert medan pendakian, atau yang pakar PHP? Eh, pokoknya semua ada——tapi yang langka adalah anak gunung yang menjadi cleaning service. Maaf kami selalu berisik sampai aku pun tersungkur di depan carriel dengan santainya. Waktu itu Kak Husain pun tak kalah, ikut mengantongi sampah-sampah di sekitar bekas perapian.
Sisa logistik pun rapi dan tinggal di-packking oleh kakak-kakak yang rajin itu dan mereka selalu paling belakang. Kak Yusef dan Kak Yuda. Serius! Siapa pun tak ‘kan lupa dengan perjuangan mereka.
Kami akan kembali mendirikan tenda di Kalimati sebelum benar-benar summit ke Mahameru. Waktuya mengumbar semangat lagi karena Mahameru tinggal 10,2 km.
Pemimpin perjalanan kami tetap di depan. Bersiap menuju tanjakan cinta. Edelweis di Ranu Kumbolo sudah lebih dulu menggugurkan embunnya saat kaki mulai melangkah pelan tapi pasti. Menelusuri jalan di samping bukit. Naik dan turun lagi. Kami hampir melewati setengah lingkaran dari danau Ranu Kumbolo. Satu coklat pastaku hampir habis. Istirahat sejenak di antara batu nisan para pendaki yang meninggal dunia. Ini artinya kami harus ingat mati, ingat yang Kuasa.
Rasanya ingin duluan saja berjalan ke atas. Eni dan Isma menyusul di belakang. Kami saling susul. Seorang ikhwan sudah lebih dulu—aku tak ingat siapa. Bagaimana dengan Lili yang selalu pakai minyak but-but itu. Juga bagaimana dengan yang lainnya.
Sesak. Terengah-engah. Tak ada bedanya dengan tanjakan di pos tiga hanya saja yang ini lebih panjang dan lama. Mitosnya jika menginginkan sesuatu maka mendakilah di tanjakan ini sampai tak menoleh sedikit pun ke bawah. Tapi sayang, satu pun di antara kami tak ada yang terpengaruh. Melihat dari ketinggian adalah hal yang mengasyikkan. Seperti ingin meluncur kembali ke Ranu Kumbolo.
Jika satu-satunya tujuan ke Mahameru hanya untuk mendaki sampai pucuk tanjakan cinta tanpa menoleh ke bawah dan merasa akan memenangkan apa yang kita inginkan. Rasanya sia-sia sekali. Betapa sempitnya keinginan yang tak punya cita-cita besar itu. Ingat dengan perkataan Soe Hok Gie, “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.…”
Perjalanan akan selalu mengajarkan hal yang berharga dan langka. Tetap menunduk saat naik dan tetap tegap saat kita menurun. Beberapa orang masih berhenti dan berjalan lagi. Kami bertiga hampir sampai. Di pucuk tanjakan pendaki lain memberikan semangat. Mengerlingkan mata. Malah ada yang iseng-iseng turun dari atas dengan meluncur lewat jalur yang tak biasa. Menyapu habis ilalang. Senangnya orang itu, tapi tak tahu sampai di bawah apakah dia masih bisa tertawa atau tidak. Kami pun sampai di tempat yang landai.
Melemparkan tubuh dengan carriel bagai mati rasa. Meneguk air secukupnya. Menohok.Rupanya di bawah sana ada padang rumput luas. Harmoni ilalang tua yang payah. Tapi tetap khas dengan bau kering yang seperti hendak terbakar. Rumput savana membukit meskipun coklat tapi tetap saja indah.
Sempat putus asa karena langkah-langkah berat ini tak terbayar. Tak ada padang Edelweis (Anaphalis javanica), tak ada Lavender ungu karena ini bukan musim penghujan. Juga tak ada mega di atas langit. Tapi sekeras karang pun akan kami coba!
Bersyukurlah dengan apa pun yang Oro-oro Ombo suguhkan terik ini. Kami kira dari kejauhan daun coklat yang keputih-putihan itu adalah bunga Edelweis kering, tapi rupanya daun tumbuhan paku-pakuan yang rapuh. Di bawah sana ada jalur landai yang berkelok. Tetap membuat penasaran dan selalu menarik perhatian untuk dijajaki.
Pendakian bukit terjal. Melewati padang rumput yang disebut Oro-oro Ombo dan memasuki hutan cemara yang di namai Cemoro Kandang. Tak usah berlama-lama di pucuk  tanjakan. Sekarang mulai menurun. Semuanya menantang! Kami bisa saja terpeleset jika salah pijakan. Beruntung turunan ini beranak tangga, tapi harus tetap hati-hati. Kak Azzami dan Bang Ade sudah lebih dulu sampai di bawah. Kak Husain meluncur cepat—entah pakai gaya apa, yang jelas dia berlari dan zig-zag tanpa cedera apa pun. Aku menuruni anak tangga dengan serabutan. Untungnya yang lain tak mengikuti karena hampir salah jalur. Yang lain berjalan dengan penuh perhitungan. Kak Noufra seperti terburu-buru sampai matrasnya pun jatuh, akhirnya dia mengikuti instruksi kak Husain.
Sekarang giliran menikmati desiran angin di antara rumput-rumput setinggi orang dewasa yang tak kukenali spesiesnya. Batangnya kuat dan bonggol bunganya keras. Pohon-pohon pinus dari kejauhan bagai memainkan melodi rimba dan saling bergesekkan bagai senar. Hampir tak bisa membedakan suara angin dan riak air atau hujan. Selama perjalanan selalu cerah. Pemilik Semeru masih mengizinkan kami, meskipun sebetulnya sedih menyaksikan titik-titik hitam bekas kebakaran itu. Dan lirik-lirik penyemangat pun selalu berakhir di puncak Mahameru!
Untuk kesekian kali, yang bukan mudah mengukir langkah di angksa….
Hutan cemara di Cemoro Kandang. Istirahat lagi. Ada batang pohon tumbang yang sangat panjang dan kuat. Rizky, tiba-tiba anak itu seperti sedang berceloteh sendiri di depan plang penunjuk lokasi. Entahlah, mungkin sedang merekam aksinya. Setiap ada plang pasti tak ‘kan dia lewatkan, termasuk Kak Noufra. Ada yang sedang menambal sepatu kesayangannya dengan hansaplas—ini sebut merk kayanya. Berfoto-foto lagi. Sungguh! Kejadian ini begitu detail. Seolah sengaja setiap saat akan selalu terekam dalam memoriku.
Kami tak menyangka ada yang berjualan di atas ketinggian 2400mdpl lebih. Sudah kubilang uang dimana pun akan selalu dicari. Seorang bapak dan ibu ditemani anjing mereka, juga dengan seorang anaknya yang berumur tiga atau empat tahunan. Ya kali aja anak sekecil itu lebih kuat dari kami….
Sebelum ke Kalimati harus sampai lebih dulu di Jambangan. Masih 3 km lagi. Nafas kembali normal. Mulai terbiasa dengan seni menumbangkan carriel ke belakang—gaya bangeutttt—karena senangnya melihat Eni seperti itu—meskipun penampilan agak gembel tapi harus tetap cool.
Mengangkat beban lagi dengan ringannya. Insyaallah ini mudah…. Mulai membelah hutan pinus dan terus menanjak. Kami seringkali berhenti. Tiap berapa puluh meter pasti ada spot untuk break tapi tak pernah lama.
Kak Husain memimpin perjalanan untuk kedua kalinya. Aku dan Eni di depan lagi. Kak Husain selalu memberikan harapan. Sebetulnya kami tak mau menyebutnya sebagai PHP—Pemberi Harapan Palsu—karena sudah pasti Kalimati ada depan. Rupanya Kak Husain baru tau istilah ini. Serius ini bukan berita buruk tapi karena lucu, aku menahan tawa dan sedikit melupakan peluhnya medan terjal—akar pohon dan batu yang tak terlalu kami pikirkan. Karena….
Tak pernah kita pikirkan akhir perjalanan ini,
Dan tak usah kita pikirkan akhir perjalanan ini…..[1]
Yang penting semuanya dibuat menyenangkan.
Hampir ashar. Kami selalu ingin mencari spot untuk solat tapi tak pernah berhasil. Seolah-olah PHP lagi. Setiap bertemu pendaki lain mereka pun selalu bilang, “dekat ko mbak sebentar lagi, ayo semangat!” ha…, he…. Mungkin jika saya jadi anda, saya juga akan mengatakan hal yang sama boy. Tak lama setelah itu banyak rombongan bule dan turis-turis lainnya. Sampai di Kalimati logistik mereka diangkut para tukang, penduduk dari Ranu Pani. Aku jadi penasaran mereka dibayar berapa. Turis-turis dari Cina atau Thailand, katanya sih begitu. Turis-turis itu lengkap dengan tongkatnya. Meskipun kami tanpa tongkat tapi bisa jadi kami yang paling tangguh—hah sok banget gw.
“Masih jauh mas?” tanyaku sok akrab pada suatu robongan saat para turis itu pun berlalu.
“Deket, deket ko mbak,” katanya ringan.
“Ayo dong, masa cinta kita pada tanah air kalah dibanding mereka!” Kataku sedikit berteriak tak jelas kepada Eni di depan orang-orang yang tak kukenal itu, dan mereka sepakat.
Ada yang berpendapat bahwa naik gunung itu menghabiskan waktu ibadah. Aku sangat sadar. Sejak dinginnya di Ranu Kumbolo setoran tilawah tak terpenuhi dan solat pun sering dijamak. Astagfirullah…. tapi Islam itu justru memudahkan. Tapi Insyaallahhati kami tak pernah berhenti mengingat-Nya dalam diam atau pun gaduh.
“Biar langkahnya ringan. Dalam setiap langkah itu selalu menyebut Allah SWT. Langkah pertama menyebut kata La (tidak). Langkah kedua menyebut kata Illah(Tuhan). Langkah ketiga menyebut kata Haillah (selain Allah).” Cerita Kak Husain. Aku hanya berseru berkali-kali, “bisa jadi, bisa jadi…!” Kak Husain, ekspresinya berubah.Woles kak… aku tidak sedang bercanda dan aku betul-betul mencobanya sampai Kalimati. Huh, yeah!!!
Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (An-Nisa’: 131).
Belum sampai di Jambangan kami berhenti di tempat yang lebih luas. Mungkin ini Kalisat. Yang lain berdatangan. sementara Lili membetulkan kakinya yang masih sakit tapi dia cukup kuat sampai Kalimati. Dibantu minyak but-butnya Eni. Baru sadar ada yang namanya minyak but-but. Entah merk atau apa. Lucu.
Dataran semakin meninggi. Oksigen di udara bebas serasa makin sempit. Udaranya membuat sesak lagi. Dingin. Yang membawa oksigen pun dihirupnya. Lagi-lagi pendaki yang hendak kembali ke Ranu Kumbolo bilang, “bentar lagi…. itu di depan, Jambangan dan Kalimati.” Tanya pendaki manapun pasti jawabannya akan sama.
Berhenti di Jambangan. Edelweis tak menarik lagi, seperti terlalu lama tanpa hujan dan sebagian daunnya pun kering. Ada plang penunjuk lokasi lagi—pasti ada giliran yang berfoto dekat plang ini. Kami menunggu yang lain datang. Kak Husain mencari tahu. Katanya mendirikan tenda di sini lebih aman, anginnya tak ‘kan terlalu kencang. Tapi akhirnya kami bergegas ke arah bangunan permanen yang kumuh itu. Entah apa yang kakak-kakak itu bicarakan dengan pendaki lain, seolah sangat akrab seperti teman lama. Sedangkan kami duduk-duduk di atas rumput yang berdebu tebal. Aku dan Eni berjabat tangan, kami mendeklarasikan sesuatu dan itu lelucon rahasia. Intinya semoga kami akan selalu ada saat yang lain pun membutuhkan.
Menemukan tempat yang pantas. Di pandang rumput, di tepi hutan cemara. Empat sampai lima tenda pun berdiri. Yang ikhwan menumpahkan logistik, perlengkapan lain dan mendirikan tenda. Seperti biasa, dipandu Lili akhwat masak untuk makan malam. Sayur sop dan tumis mie campur sawi. Aku bingung harus mengerjakan apa, bukan alibi—bukan tak bisa memasak tapi sudah ada yang lebih ahli. Melihat botol plastik yang kosong ingin rasanya mengisi air tapi dimana. Bang Ade dengan ringanya menunjukkan lokasi air kalimati. Di depan sana, lurus saja katanya. Eni, mbak Dwi dan Detty pun ikut. Kami pun berangkat tanpa komentar dengan botol-botol kosong di tangan.
Menjelang magrib tapi semangat tak patah. Sempat nyasar ke semak-semak dan hutan—karena sok tahu mungkin. Di bawah sana terlihat seorang bapak yang menenteng jerigen. Bisa-bisa saja lewat jalur ini tapi akan sangat berbahaya dan terjal. Akhirnya kami menemukan jalur yang benar. Sebelum menuruni sungai tak berair kami bertemu rombongan bapak-bapak itu. Mereka terkejut karena yang mengambil air adalah perempuan dan kami dingin-dingin saja. Mereka bilang sumber air Kalimati sangat jauh. Kami hanya mengeluarkan kata, “oh….” Ya… cukuplah ini menjadi pengalaman terpolos seumur hidup saat para akhwat menuju Sumber Mani dengan datarnya. Tanpa beban yang berarti.
Mata air Sumber Mani namanya. Medannya? W O W banget. Sesekali ragu dengan jalur yang kami lewati, tapi karena melihat bercak-bercak basah di pasir bekas air yang berceceran—sepertinya ada harapan. Kami pun yakin. Sekitar duapuluh menit berjalan ternyata Sumber Mani tak ada juga. Jalan berbelok, disambut batu-batu besar dan akar pohon lagi. Jika tak jeli kami bisa terperosok dan terjepit di antara bebatuan. Dari belakang seperti ada yang menyusul. Kak Husain dan Kak Noufra rupanya. Mereka berlari secepat kilat menghampiri kami. Medan yang menantang justru yang menyenangkan, karena jelas-jelas tak ada lagi yang dipikirkan selain bertahan di sini. Beruntung jika besok pagi kami bisa sampai di puncak Mahameru dan kembali dengan utuh.
Kami semakin dramatis. Semakin dibuat penasaran. Di mana Sumber Mani berada? Mulai menemukan air yang sedikit sekali bercucuran dari batu. Bukan yang ini tapi di depan lagi. Pendaki lain dengan ramah mempersilahkan kami mengambil air. Di antara mereka juga yang sedang solat. Sekitar enambelas botol kosong kami isi. Segarnya air ini. Lebih bersih dari air danau Ranu Kumbolo. Tak ragu meminum langsung dan kembali memantikkan semangat lagi.
Segera kembali ke Kalimati. Berenam membawa botol-botol yang sudah terisi penuh. Sekarang sebaliknya. Menanjak. Menghantam pijakan bebatuan dan debu pun berhamburan. Perjalanan pulang terasa lama, mungkin hampir satu jam. Kami sempat istirahat dua kali dan meminum air yang dibawa. Aku berpikir bagaimana jika air ini pun habis sesampainya di Kalimati. Tapi tak apalah nanti juga terisi lagi.
Kak Madun—eh maksudnya Kak Mudin dan ikhwan lain rempong sekali, karena api unggun yang tak kunjung hidup. Akhirnya bara api pun menyala-nyala. Sampai pukul setengah delapan masih mendengarkan arahan. Kakak-kakak itu selalu berkali-kali menanyakan siapa saja yang akan summit nanti malam. HEBAT!!! Semua mengacungkan tangan.
“Yang mau ikut persiapkan dari sekarang, tapi jangan dipaksakan. Harus yakin.” Bang Ade dan Kak Azzami pun menjelaskan kondisi track sebenarnya menuju puncak seperti apa dan kami pun tak kalah antusias mendengarkan. Ada ini dan itu…. harus begini dan begitu…. ada poin blank atau jurang curam apalah itu. Orang sering tersesat saat menurun dan tak menghiraukan pemimpinnya. Bukan menakut-nakuti tapi memang faktanya seperti itu dan kami akan menghadapi kengerian ini.
“Ingat, puncak itu pilihan sedangkan menurun itu pasti,” tegas mereka.
Jam sepuluh malam berencana summit. Kami pun terlelap cepat setelah semua atribut lengkap. Sepatu, jaket, perbekalan, sarung tangan, syal dan kain buff yang tak pernah lepas di leher. Semua siap. Di tenda. Head lamp mulai redup. Saatnya mengganti baterai. Dingin yang tak biasa mulai lagi. Remang-remang. Seketika sepi. Semua mengharapkan perjalanan ini sempurna dengan penuh kerendahan hati di depan-Nya. Yang begitu kecilnya kami dan tak pantas pongah karena pernah menaklukkan ini dan itu.
Entah besok raga ini masih bisa bangkit atau tidak. Kematian yang akan selalu mengintai. Pasrah. Dan hati-hati kami yang akan selalu bertakbir memunji-Nya. Di banyak malam terus berdo’a karena terus saja merasa menakuti hal yang besar jika harus nekad ke puncak. Takut mati lebih tepatnya!
Sejak awal, sore hari di Kalimati guratan-guratan curam Mahameru bekas aliran lahar dinginnya sangat terlihat jelas. Pahit getir menuju Mahameru bukan karena ingin mengalami kejadian yang sama seperti kisah yang digembar-gemborkan di layar lebar. Jelas. Kami berbeda. Pertemuan tanpa basa-basi ini adalah takdir yang langka. Patut kami syukuri sebagai skenario termegah Penciptanya.
Semua yang menertawakan kita, mungkin akan berbalik berharap menjadi kita hari ini.[2]
Langit akan sangat indah mungkin esok pagi, ketika kita sampai di atas awan yang membayangi. Semoga kita akan selalu tahu diri. Tanpa mengingkari ujian perjalanan dan misteri. Jalanan akan terus berputar sampai akhirnya kita tahu ujungnya di mana. Selaksa harap yang ingin rasanya jadi nyata. Semoga saja.

0 komentar: