TERBARU

Kita diciptakan Allah sengan bahan material yang sama satu sama lain, tidak ada yang beda sama sekali yang membedakan adalah Amalan kita sewaktu kita di berikan kesempatan untuk hidup ini, maka jangan sia-siakan HIDUPMU

Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2014

Nikahilah Pendaki Gunung, Nduk! ( Real Story )

Kelak, kalau saya punya anak perempuan mungkin nasihat itu akan saya berikan kepada anak gadis saya, hahaha. Bukan karena obesesi saya punya pacar pendaki gunung nggak kesampaian. Justru karena mas pacar itu pendaki, saya jadi ngrasain gimana asyiknya punya pacar yang suka naik-naik gunung.

Banyak orang bilang pendaki gunung itu gak punya tujuan jelas, kerjaannya keluyuran, hidupnya berantakan, tidak memikirkan masa depan, suka mabuk-mabukan, dan segudang stereotype negatif lainnya.

Saya tidak membantah soal hal itu. Memang ada banyak orang yang mengaku pendaki tapi kelakuannya seperti itu. Bahkan teman-teman anggota PA di kampus pun ada yang hidupnya berantakan seperti itu.

Tapi percayalah, itu hanyalah segelintir kecil oknum. Tidak semua pendaki gunung seperti itu. Masih jauh lebih banyak pendaki yang hidupnya benar dan memiliki karakter keren sehingga layak dijadikan calon pacar dan suami idaman, hahaha.

Semalam saya iseng ngetwit ke akun @infopendaki dan tanya kenapa cewek-cewek suka atau mau pacaran sama pendaki gunung. Bujubuneeeng, yang jawab banyak banget. Dan taukah kalian, 80% dari mereka bilang apa? Mereka bilang pendaki gunung itu SETIA!

Terus banyak juga yang jawab pendaki gunung itu romantis, keren, mandiri, bisa diandalkan, apa adanya, dan bertanggungjawab. Boys, dengerin tuh! Pria dengan karakter seperti itu adalah sosok yang paling banyak dicari oleh cewek.

Bercumbu dengan alam bebas yang cuacanya bisa berubah sewaktu-waktu, bertaruh dengan kehidupan, serta melakukan aktivitas yang berat bahkan cenderung ekstrim akan mampu menghasilkan mental yang tangguh dan karakter kuat.

Seorang pendaki gunung beneran (bukan hanya yang suka naik gunung buat gaya-gayaan atau efek nonton film 5 CM) pasti telah memiliki mental yang terbentuk. Alam telah menempa mereka dengan keras sehingga mereka belajar banyak tentang kedisiplinan, kemandirian, penguasaan diri, kesabaran, kerja sama, kepedulian dan masih banyak lagi.

Karena itu seorang Henry Dunnant pernah berkata “Sebuah negara tidak akan pernah kehilangan pemimpinnya yang berwibawa jika pemudanya masih suka menjelajah hutan dan mendaki gunung,”.

Sekedar info, Pak Jokowi yang keren itu dulunya suka naik gunung lho. Beliau adalah anggota MAPALA Silvagama (Mapalanya anak-anak Fakultas Kehutanan UGM). Begitupula dengan Pak Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng) yang nggak kalah kerennya itu, beliau juga anggota MAPALA Majestik (Mapalanya anak-anak Hukum UGM). Tuh kan? Saya pikir kekerenan mereka dalam menjadi pimpinan saat ini tak bisa dipisahkan dari pengalaman saat mereka menjadi anggota PA.

Lantas ada jawaban lain yang bikin saya senyum-senyum, katanya mas-mas pendaki itu auranya beda, lebih berkharisma, serta lakik banget. Jelas lah, sejauh ini sih saya belum pernah ketemu mas pendaki yang kemayu, atau gendong ransel warna pink elektrik gitu hihihihi.

Yang sering saya jumpai mas-mas berambut gondrong digelung dengan celana belel, kaos, kemeja flanel, sepatu atau sandal gunung, serta ransel lengkap dengan segala atributnya. Itu sungguh sangat menggoda iman dan pacarable banget sodara-sodara hahaha.

Saya tak pernah sepakat dengan mitos yang mengatakan bahwa pendaki gunung itu adalah orang-orang yang kurang kerjaan dan tidak punya tujuan. Bagi saya mereka itu justru orang yang sudah memantapkan tujuan dengan jelas, yakni puncak gunung. Tidak akan ada istilah “mengalir sajalah ikuti arus!”

Bagi mereka menjejak di puncak adalah tujuan pasti dari sebuah perjalanan. Jika belum bisa menjejak, itu akan dianggap sebagai hutang yang harus dilunasi entah kapan waktunya. Dan goal-goal ini juga akan berlaku dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ada puncak-puncak kehidupan yang harus mereka gapai.

Untuk mencapai posisi puncak juga memerlukan proses yang panjang dan kerja keras. Tidak bisa ujug-ujug nangkring di puncak dan menikmati sunrise yang aduhai itu. Karena itu mereka akan menjadi sosok yang sabar dan menghargai proses. Selain itu juga membentuk mental kuat, menjadi pribadi yang tidak lembek dan mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

Pacaran dengan pendaki gunung juga akan mengajarkan arti kesabaran, kesetiaan menunggu, serta tidak posesif buat si cewek. Ditinggal naik gunung berhari-hari selalu membuat khawatir dan dag dig dug. Hati baru bisa lega saat menerima sms atau telepon bahwa mereka telah kembali ke basecamp dengan selamat. Sedangkan bonusnya adalah bisa senyum-senyum kegirangan saat menerima sms sok romantis dari ketinggian sekian ribu mdpl. Dan yang paling menyenangkan saat bisa naik gunung bareng hahaha.

Jadi nduk, carilah pacar pendaki gunung ya

sumber: Kaskus

Sabtu, Februari 15, 2014 Diposting oleh Unknown 0

Sabtu, 28 Desember 2013

[PENDAKI] Pelajaran Penting dari Korban Gunung Gede

Kasus kematian Shizuko penting dijadikan pelajaran. Karena dari tiga pendaki yang tewas dalam sepekan ini, Shizuko Rizmadhani, adalah pendaki yang termuda, baru menginjak 16 tahun.
Shizuko mengembuskan nafas terakhirnya di Kandang Batu (2.220 mdpl) atau pendakian menjelang puncak Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat, setelah terserang hipotermia. Siswi SMA Negeri 6 Bekasi itu diketahui meninggal Selasa (24/12/2013) malam.
Mahesa Vicky, tim sukarelawan dari Indonesian Green Ranger, yang ikut memindahkan korban mengatakan, dirinya mendapatkan informasi ada pendaki yang mengalami kedinginan hebat dan perlu pertolongan.
"Kami (petugas Ranger) dan tim relawan langsung menuju lokasi. Menurut rekan-rekannya, korban mulai kedinginan dari Senin (23/12/2013) malam, dan tim sudah berhasil mengevakuasi jenazah korban dari atas gunung," tutur Vicky.
Kok bisa kedinginan hebat? Apa tindakan teman-temannya? Bukankah korban tidak mendaki sendiri? Pun, apakah korban sebelumnya tidak siap mendaki kendati hanya ke Gunung Gede yang ketinggiannya cuma 3,019 meter di atas permukaan laut?
Cuaca ekstrem
Banyak pertanyaan dan pendapat bisa muncul melihat kasus ini. Benang merahnya, jelas sekali, bahwa di Gunung Gede yang tidak terlalu tinggi dan jaraknya hanya "sepelemparan batu" dari Jakarta, seorang pendaki muda bisa tewas hanya karena hipotermia. Nyatanya, gunung ini kembali makan korban.
Kok bisa? Tentu saja, bisa. Pertama, Desember bukan waktu yang baik untuk pendakian di gunung-gunung tropis Indonesia, terutama untuk pendaki pemula. Seperti diketahui, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di akhir musim transisi pada Oktober-Desember harus diwaspadai, serta kemungkinan intensitas curah hujan yang sangat tinggi pada bulan Januari - Februari 2014.
"Terkait intensitas hujan, sesuai prediksi BMKG bulan Oktober-Desember merupakan akhir dari musim transisi, dan puncak musim penghujan yang berkelanjutan serta tidak mengenal waktu dan intensitas diwaspadai terjadi pada Januari-Februari," ujar Kasubid Informasi BMKG, Harry Tirto kepada Antara.
Artinya, mendaki di masa-masa cuaca "tak bersahabat" seperti ini butuh ekstra perhatian, baik fisik, perbekalan, maupun peralatan. Pendaki profesional pasti tahu betul, mendaki di bulan Desember hingga Februari berisiko diterjang hujan dan angin setiap waktu. Kehilangan panas tubuh karena dihantam hujan dan dingin sepanjang hari adalah "musuh utama" mendaki di musim seperti ini.
Kedua, rencana pendakian. Tanpa perencanaan baik, selain tidak nyaman, mendaki di tengah cuaca buruk seperti ini risikonya nyawa. Matangnya perencanaan terkait erat dengan berat dan tidaknya rute pendakian, kebutuhan perbekalan, kesiapan fisik, peralatan dan sebagainya sepanjang waktu pendakian dilakukan. Nah, bagaimana persiapan korban dan teman-temannya sebelum mendaki Gunung Gede ini? Ini menjadi pertanyaan, karena diketahui korban pergi mendaki bersama 27 rekannya.
Seperti dilansir oleh sejumlah media, sulit mendeteksi kesiapan korban dan timnya dalam pendakian ini, mengingat mereka tidak membawa obat-obatan atau perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Soal penanganan kondisi korban yang melemah pun tidak diketahui.
Disepelekan
"Yang saya baca di koran, kondisi fisik Shizuko sudah melemah. Ditambah pula dia ditinggal sendirian di tenda sewaktu timnya summit attack (pendakian ke puncak). Itu tentu saja fatal, karena tidak ada teman korban yang tahu kondisi terakhir korban. Pertanyaannya, kenapa orang sakit ditinggal sendirian di tenda," tukas Andy Reezwandy (35), seorang pendaki gunung asal Jakarta.
Ia mengaku, Gunung Gede selama ini memang sudah terstigma sebagai rute pendakian untuk pemula. Bahkan, anak-anak di bawah usia 15 tahun kerap diajak orangtua atau sekolahnya mendaki ke gunung ini.
"Artinya, jadi seperti wisata saja. Apalagi ditambah dengan omongan kalau naik gunung sekarang ini sedang 'ngetrend'. Nah, akhirnya persiapan utama mendakinya malah banyak disepelekan orang. Itu bahayanya," kata Andy.
Faktor ketiga adalah persiapan fisik. Sampai saat ini, mendaki gunung masih masuk ke olahraga ekstrem. Terkait olahraga luar ruang, "bermain-main" di gunung berarti siap-siap berkawan dengan buruknya cuaca yang susah ditebak.
"Kembali lagi ke soal pengetahuan, pendidikan yang menjadi bekal si pendaki. Dengan pengetahuan yang dia punya, sudah barang tentu persiapan pendakiannya juga baik. Dia pasti tahu risiko yang akan dia hadapi, sudah dia ukur. Minimal siap menghadapi risiko itu, karena alam tidak bisa ditebak maunya," kata Adiseno, pendaki senior Mapala UI.
Di gunung apapun dan setinggi apapun, mendaki di musim penghujan ini butuh persiapan matang, kondisi fisik prima, serta peralatan dan perbekalan memadai. Tentu saja, semua itu berhulu pada pengetahuan pendakian yang dimiliki seorang pendaki. Pertanyaannya, sudahkah hal-hal utama ini dipenuhi maksimal oleh korban dan teman-temannya? Karena risikonya sudah langsung terjawab, korban meregang nyawa karena serangan hipotermia atau kehilangan suhu panas tubuh akibat basah dan kedinginan.
Jangan-jangan, soal hipotermia dan penyebabnya pun kita tak tahu dan tak mau tahu! Rasanya, inilah pelajaran berharga yang harus diambil mengingat masih banyak pendaki yang akan menuntaskan pendakiannya pada Desember hingga Februari nanti. Bukan sesumbar, tapi memang tak perlu takut mati karena punya kenginan mendaki, asalkan persiapan telah maksimal dipenuhi. Anda sudah siap?
Sabtu, Desember 28, 2013 Diposting oleh Unknown 0

Sabtu, 07 Desember 2013

[Tips Mendaki gunung] Ingat Allah selalu

kata teman mendaki gunung itu menghabiskan waktu dan ibadah jadi kurang biaralah orang berkata apa yang penting kita tidak seperti itu bukan,…. berikut tips yang saya dapatkan saat dulu melakukan pendakian di gunung lawu ke-3 kali bersama seorang “guru”ku biasa di panggil “mbah tarom” karena dulu aku harus membawa banyak bekal yang di bawa seorang pendaki perempuan yang sedang sakit tapi masih ingin mencapai puncak dia bilang begini "sen, nek munggah gunung iku langkahmu ojo ngampek lali nyebut, sak langkah sebuat nama Allah SWT mesti enteng".
maknanya seperti ini
dalam setiap langkah kita dalam mendaki gunung itu selalu menyebut Allah SWT
langkah pertama menyebut kata La (tidak)
Langkah kedua menyebut kata Illah (Tuhan)
Langkah ketiga menyebut kata Haillah (selain Allah)
dan berlajut terus sampai tempat tujuan
itu bisa mengantarkan saya sampai tujuan dan Alhamdulillah itu bisa di apilkasikan di dunia biasa selain dunia pendakian.
setiap kita menapaki perjalanan hidup yang penuh onak dan duri ini, dengan kita mengingat kepada Allah SWT insyaAllah Dia akan menolong kita.
mungkin sedikit tips dari saya semoga bermanfaat kalau salah mohon dibenarkan ya,…
di tunggu tips lainya
Allah Selalu bersama hambanya yang mengingatnya
Sabtu, Desember 07, 2013 Diposting oleh Unknown 0

Kenapa saya mendaki gunung


وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا
Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (An-Nisa’ : 131)
berikut tafsirnya
Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitakan tentang meratanya kepemilikan-Nya pada alam semesta, di mana hal itu menghendaki Dia mengatur semuanya dengan semua bentuk pengaturan dan bertindak kepadanya dengan berbagai bentuk tindakan, baik berupa qadar (ketetapan-Nya di alam semesta) maupun yang berupa penetapan syari’at dan menyuruh mereka mengikuti syari’at itu dengan bertakwa.
Kepada wasiat itu dengan tidak mau bertakwa.
Maksudnya ciptaan-Nya, milik-Nya dan hamba-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, oleh karena itu kekafiran kalian tidaklah memadharratkan-Nya sedikit pun, bahkan malah memadharratkan diri kamu. Demikian juga kekafiran itu tidaklah mengurangi kerajaan-Nya, bahkan Dia memiliki hamba yang lebih baik dan lebih banyak dari kamu, di mana mereka selalu taat dan tunduk kepada-Nya.
Tidak butuh kepada makhluk-Nya dan kepada ibadah mereka, bahkan merekalah yang butuh kepada-Nya.
Dalam tindakan-Nya kepada makhluk-Nya. Dia berhak mendapatkan segala pujian dan sanjungan, karena Dia memiliki sifat-sifat terpuji dan karena nikmat-Nya yang begitu banyak yang diberikan kepada makhluk-Nya, oleh karenanya Dia Maha Terpuji dalam semua keadaan.
Iya di surat An-nisa di atas di terangkan bahwa milik Allahlah yang ada di langit dan ada di bumi, jadi semua yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah SWT termasuk saya (manusia), saya ingin merasakan betapa kecilnya manusia di banding dengan ciptaan lainya, dengan kita berada di puncak gunung, atau dalam keadaan melakukan perjalanan menuju kepuncak gunung kita akan senantiasa untuk mengingat Allah SWT karena betapa kecilnya kita dan ketika kita berada di atas puncak gunung begitu terasa kecilnya kita (manusia) di bawah langit di atas awan berdiri melihat luasnya ciptaanya.
semoga tulisan ini dapat menginsirasi dan dapat memperbaiki niat kita melakukan pendakian gunung,

salam rimba, salam lestari
Sabtu, Desember 07, 2013 Diposting oleh Unknown 0

[catatan langakah seorang akhwat] Di Kaki Langit Jawa, part 3. “Bagai Hutan dan Hujan.”

Sepanjang jalan ingat celotehan kami—E kuadrat—tentang ini dan itu, kalo begini ya begitu, ko gitu…. coba kalo gini jadinya kan gitu…. Sekarang bagi kami lirik-lirik yang sedih sekalipun akan kami ubah semaunya agar menyenangkan.
***
Semangat masih menyala. Berat rasanya meniggalkan Ranu Kumbolo yang tak ada tandingannya. Di sebrang sana tak kalah angkuhnya tanjakan itu berdiri. Katanya itu tanjakan cinta. Mungkin selama melewatinya akan sangat butuh pengorbanan, dedikasi tinggi, dan cukup menguras energi dengan wajah penuh ekpresi. Dari kejauhan terlihat pendek, tapi semoga saja kami bisa sampai di pucuk tanjakan.
Puas seperti ingin merayakan kebebasan di atas batu besar dan menghela udara segar di Ranu Kumbolo. Ternyata Isma hendak pergi dengan kakak-kakak itu entah kemana. Bang Ade mengajakku. Aku bilang aku akan menyusul dengan cepat, tapi ternyata mereka menunggu. Segera turun dari batu besar itu dan menyusul mereka. Yang lain masih foto-foto, akhwat menyiapkan sarapan, dan ikhwan malah berhamburan ke danau.
Aku, Isma dan kakak-kakak itu menelusuri danau ke arah utara—kalo tak salah itu arah utara. Duduk-duduk di atas pohon tumbang dan berjalan lagi ke hamparan rumput kering. Seperti biasa aku tak ingin melewatkan kayu angin yang begitu kuat menggantung di antara batang-batang tua itu. Usianya mungkin sudah belasan tahun bahkan mampuh melapukkan pohon kuat manapun. Jadi jangan diremehkan, termasuk tanjakan yang terlihat pendek itu.
Aku dan Isma, he—sepertinya kami berdua harus mengasingkan diri. Ada tempat yang lebih menarik. Ada batu besar yang ternyata lebih besar dari batu sebelumnya. Kami berdua biasa-biasa saja, seolah tak pernah melewati malam panjang itu. Merekahkan tawa dan semangat lagi. Tak lama seseorang memanggil kami untuk kembali ke kemah. Rupanya sarapan sudah siap. Isma, Eni dan aku sarapan tepat di pinggir danau, sepiring bertiga dan menu penutupnya adalah jelly—tak perlu sebut merk, meskipun itu satu-satunya merk yang selalu kami cari. Sebenarnya ragu memakan jelly sepagi ini tapi akhirnya dilahap juga.
Merapikan kembali perlengkapan setelah sarapan pun lewat. Tak lupa mengisi air dari danau untuk bekal selama ke Kalimati. Aku dan Eni pun sadar, jiwa kebabuan kami akhirnya mucul. Yang jago masak, memasang tenda, navigator ulung, expert medan pendakian, atau yang pakar PHP? Eh, pokoknya semua ada——tapi yang langka adalah anak gunung yang menjadi cleaning service. Maaf kami selalu berisik sampai aku pun tersungkur di depan carriel dengan santainya. Waktu itu Kak Husain pun tak kalah, ikut mengantongi sampah-sampah di sekitar bekas perapian.
Sisa logistik pun rapi dan tinggal di-packking oleh kakak-kakak yang rajin itu dan mereka selalu paling belakang. Kak Yusef dan Kak Yuda. Serius! Siapa pun tak ‘kan lupa dengan perjuangan mereka.
Kami akan kembali mendirikan tenda di Kalimati sebelum benar-benar summit ke Mahameru. Waktuya mengumbar semangat lagi karena Mahameru tinggal 10,2 km.
Pemimpin perjalanan kami tetap di depan. Bersiap menuju tanjakan cinta. Edelweis di Ranu Kumbolo sudah lebih dulu menggugurkan embunnya saat kaki mulai melangkah pelan tapi pasti. Menelusuri jalan di samping bukit. Naik dan turun lagi. Kami hampir melewati setengah lingkaran dari danau Ranu Kumbolo. Satu coklat pastaku hampir habis. Istirahat sejenak di antara batu nisan para pendaki yang meninggal dunia. Ini artinya kami harus ingat mati, ingat yang Kuasa.
Rasanya ingin duluan saja berjalan ke atas. Eni dan Isma menyusul di belakang. Kami saling susul. Seorang ikhwan sudah lebih dulu—aku tak ingat siapa. Bagaimana dengan Lili yang selalu pakai minyak but-but itu. Juga bagaimana dengan yang lainnya.
Sesak. Terengah-engah. Tak ada bedanya dengan tanjakan di pos tiga hanya saja yang ini lebih panjang dan lama. Mitosnya jika menginginkan sesuatu maka mendakilah di tanjakan ini sampai tak menoleh sedikit pun ke bawah. Tapi sayang, satu pun di antara kami tak ada yang terpengaruh. Melihat dari ketinggian adalah hal yang mengasyikkan. Seperti ingin meluncur kembali ke Ranu Kumbolo.
Jika satu-satunya tujuan ke Mahameru hanya untuk mendaki sampai pucuk tanjakan cinta tanpa menoleh ke bawah dan merasa akan memenangkan apa yang kita inginkan. Rasanya sia-sia sekali. Betapa sempitnya keinginan yang tak punya cita-cita besar itu. Ingat dengan perkataan Soe Hok Gie, “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.…”
Perjalanan akan selalu mengajarkan hal yang berharga dan langka. Tetap menunduk saat naik dan tetap tegap saat kita menurun. Beberapa orang masih berhenti dan berjalan lagi. Kami bertiga hampir sampai. Di pucuk tanjakan pendaki lain memberikan semangat. Mengerlingkan mata. Malah ada yang iseng-iseng turun dari atas dengan meluncur lewat jalur yang tak biasa. Menyapu habis ilalang. Senangnya orang itu, tapi tak tahu sampai di bawah apakah dia masih bisa tertawa atau tidak. Kami pun sampai di tempat yang landai.
Melemparkan tubuh dengan carriel bagai mati rasa. Meneguk air secukupnya. Menohok.Rupanya di bawah sana ada padang rumput luas. Harmoni ilalang tua yang payah. Tapi tetap khas dengan bau kering yang seperti hendak terbakar. Rumput savana membukit meskipun coklat tapi tetap saja indah.
Sempat putus asa karena langkah-langkah berat ini tak terbayar. Tak ada padang Edelweis (Anaphalis javanica), tak ada Lavender ungu karena ini bukan musim penghujan. Juga tak ada mega di atas langit. Tapi sekeras karang pun akan kami coba!
Bersyukurlah dengan apa pun yang Oro-oro Ombo suguhkan terik ini. Kami kira dari kejauhan daun coklat yang keputih-putihan itu adalah bunga Edelweis kering, tapi rupanya daun tumbuhan paku-pakuan yang rapuh. Di bawah sana ada jalur landai yang berkelok. Tetap membuat penasaran dan selalu menarik perhatian untuk dijajaki.
Pendakian bukit terjal. Melewati padang rumput yang disebut Oro-oro Ombo dan memasuki hutan cemara yang di namai Cemoro Kandang. Tak usah berlama-lama di pucuk  tanjakan. Sekarang mulai menurun. Semuanya menantang! Kami bisa saja terpeleset jika salah pijakan. Beruntung turunan ini beranak tangga, tapi harus tetap hati-hati. Kak Azzami dan Bang Ade sudah lebih dulu sampai di bawah. Kak Husain meluncur cepat—entah pakai gaya apa, yang jelas dia berlari dan zig-zag tanpa cedera apa pun. Aku menuruni anak tangga dengan serabutan. Untungnya yang lain tak mengikuti karena hampir salah jalur. Yang lain berjalan dengan penuh perhitungan. Kak Noufra seperti terburu-buru sampai matrasnya pun jatuh, akhirnya dia mengikuti instruksi kak Husain.
Sekarang giliran menikmati desiran angin di antara rumput-rumput setinggi orang dewasa yang tak kukenali spesiesnya. Batangnya kuat dan bonggol bunganya keras. Pohon-pohon pinus dari kejauhan bagai memainkan melodi rimba dan saling bergesekkan bagai senar. Hampir tak bisa membedakan suara angin dan riak air atau hujan. Selama perjalanan selalu cerah. Pemilik Semeru masih mengizinkan kami, meskipun sebetulnya sedih menyaksikan titik-titik hitam bekas kebakaran itu. Dan lirik-lirik penyemangat pun selalu berakhir di puncak Mahameru!
Untuk kesekian kali, yang bukan mudah mengukir langkah di angksa….
Hutan cemara di Cemoro Kandang. Istirahat lagi. Ada batang pohon tumbang yang sangat panjang dan kuat. Rizky, tiba-tiba anak itu seperti sedang berceloteh sendiri di depan plang penunjuk lokasi. Entahlah, mungkin sedang merekam aksinya. Setiap ada plang pasti tak ‘kan dia lewatkan, termasuk Kak Noufra. Ada yang sedang menambal sepatu kesayangannya dengan hansaplas—ini sebut merk kayanya. Berfoto-foto lagi. Sungguh! Kejadian ini begitu detail. Seolah sengaja setiap saat akan selalu terekam dalam memoriku.
Kami tak menyangka ada yang berjualan di atas ketinggian 2400mdpl lebih. Sudah kubilang uang dimana pun akan selalu dicari. Seorang bapak dan ibu ditemani anjing mereka, juga dengan seorang anaknya yang berumur tiga atau empat tahunan. Ya kali aja anak sekecil itu lebih kuat dari kami….
Sebelum ke Kalimati harus sampai lebih dulu di Jambangan. Masih 3 km lagi. Nafas kembali normal. Mulai terbiasa dengan seni menumbangkan carriel ke belakang—gaya bangeutttt—karena senangnya melihat Eni seperti itu—meskipun penampilan agak gembel tapi harus tetap cool.
Mengangkat beban lagi dengan ringannya. Insyaallah ini mudah…. Mulai membelah hutan pinus dan terus menanjak. Kami seringkali berhenti. Tiap berapa puluh meter pasti ada spot untuk break tapi tak pernah lama.
Kak Husain memimpin perjalanan untuk kedua kalinya. Aku dan Eni di depan lagi. Kak Husain selalu memberikan harapan. Sebetulnya kami tak mau menyebutnya sebagai PHP—Pemberi Harapan Palsu—karena sudah pasti Kalimati ada depan. Rupanya Kak Husain baru tau istilah ini. Serius ini bukan berita buruk tapi karena lucu, aku menahan tawa dan sedikit melupakan peluhnya medan terjal—akar pohon dan batu yang tak terlalu kami pikirkan. Karena….
Tak pernah kita pikirkan akhir perjalanan ini,
Dan tak usah kita pikirkan akhir perjalanan ini…..[1]
Yang penting semuanya dibuat menyenangkan.
Hampir ashar. Kami selalu ingin mencari spot untuk solat tapi tak pernah berhasil. Seolah-olah PHP lagi. Setiap bertemu pendaki lain mereka pun selalu bilang, “dekat ko mbak sebentar lagi, ayo semangat!” ha…, he…. Mungkin jika saya jadi anda, saya juga akan mengatakan hal yang sama boy. Tak lama setelah itu banyak rombongan bule dan turis-turis lainnya. Sampai di Kalimati logistik mereka diangkut para tukang, penduduk dari Ranu Pani. Aku jadi penasaran mereka dibayar berapa. Turis-turis dari Cina atau Thailand, katanya sih begitu. Turis-turis itu lengkap dengan tongkatnya. Meskipun kami tanpa tongkat tapi bisa jadi kami yang paling tangguh—hah sok banget gw.
“Masih jauh mas?” tanyaku sok akrab pada suatu robongan saat para turis itu pun berlalu.
“Deket, deket ko mbak,” katanya ringan.
“Ayo dong, masa cinta kita pada tanah air kalah dibanding mereka!” Kataku sedikit berteriak tak jelas kepada Eni di depan orang-orang yang tak kukenal itu, dan mereka sepakat.
Ada yang berpendapat bahwa naik gunung itu menghabiskan waktu ibadah. Aku sangat sadar. Sejak dinginnya di Ranu Kumbolo setoran tilawah tak terpenuhi dan solat pun sering dijamak. Astagfirullah…. tapi Islam itu justru memudahkan. Tapi Insyaallahhati kami tak pernah berhenti mengingat-Nya dalam diam atau pun gaduh.
“Biar langkahnya ringan. Dalam setiap langkah itu selalu menyebut Allah SWT. Langkah pertama menyebut kata La (tidak). Langkah kedua menyebut kata Illah(Tuhan). Langkah ketiga menyebut kata Haillah (selain Allah).” Cerita Kak Husain. Aku hanya berseru berkali-kali, “bisa jadi, bisa jadi…!” Kak Husain, ekspresinya berubah.Woles kak… aku tidak sedang bercanda dan aku betul-betul mencobanya sampai Kalimati. Huh, yeah!!!
Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (An-Nisa’: 131).
Belum sampai di Jambangan kami berhenti di tempat yang lebih luas. Mungkin ini Kalisat. Yang lain berdatangan. sementara Lili membetulkan kakinya yang masih sakit tapi dia cukup kuat sampai Kalimati. Dibantu minyak but-butnya Eni. Baru sadar ada yang namanya minyak but-but. Entah merk atau apa. Lucu.
Dataran semakin meninggi. Oksigen di udara bebas serasa makin sempit. Udaranya membuat sesak lagi. Dingin. Yang membawa oksigen pun dihirupnya. Lagi-lagi pendaki yang hendak kembali ke Ranu Kumbolo bilang, “bentar lagi…. itu di depan, Jambangan dan Kalimati.” Tanya pendaki manapun pasti jawabannya akan sama.
Berhenti di Jambangan. Edelweis tak menarik lagi, seperti terlalu lama tanpa hujan dan sebagian daunnya pun kering. Ada plang penunjuk lokasi lagi—pasti ada giliran yang berfoto dekat plang ini. Kami menunggu yang lain datang. Kak Husain mencari tahu. Katanya mendirikan tenda di sini lebih aman, anginnya tak ‘kan terlalu kencang. Tapi akhirnya kami bergegas ke arah bangunan permanen yang kumuh itu. Entah apa yang kakak-kakak itu bicarakan dengan pendaki lain, seolah sangat akrab seperti teman lama. Sedangkan kami duduk-duduk di atas rumput yang berdebu tebal. Aku dan Eni berjabat tangan, kami mendeklarasikan sesuatu dan itu lelucon rahasia. Intinya semoga kami akan selalu ada saat yang lain pun membutuhkan.
Menemukan tempat yang pantas. Di pandang rumput, di tepi hutan cemara. Empat sampai lima tenda pun berdiri. Yang ikhwan menumpahkan logistik, perlengkapan lain dan mendirikan tenda. Seperti biasa, dipandu Lili akhwat masak untuk makan malam. Sayur sop dan tumis mie campur sawi. Aku bingung harus mengerjakan apa, bukan alibi—bukan tak bisa memasak tapi sudah ada yang lebih ahli. Melihat botol plastik yang kosong ingin rasanya mengisi air tapi dimana. Bang Ade dengan ringanya menunjukkan lokasi air kalimati. Di depan sana, lurus saja katanya. Eni, mbak Dwi dan Detty pun ikut. Kami pun berangkat tanpa komentar dengan botol-botol kosong di tangan.
Menjelang magrib tapi semangat tak patah. Sempat nyasar ke semak-semak dan hutan—karena sok tahu mungkin. Di bawah sana terlihat seorang bapak yang menenteng jerigen. Bisa-bisa saja lewat jalur ini tapi akan sangat berbahaya dan terjal. Akhirnya kami menemukan jalur yang benar. Sebelum menuruni sungai tak berair kami bertemu rombongan bapak-bapak itu. Mereka terkejut karena yang mengambil air adalah perempuan dan kami dingin-dingin saja. Mereka bilang sumber air Kalimati sangat jauh. Kami hanya mengeluarkan kata, “oh….” Ya… cukuplah ini menjadi pengalaman terpolos seumur hidup saat para akhwat menuju Sumber Mani dengan datarnya. Tanpa beban yang berarti.
Mata air Sumber Mani namanya. Medannya? W O W banget. Sesekali ragu dengan jalur yang kami lewati, tapi karena melihat bercak-bercak basah di pasir bekas air yang berceceran—sepertinya ada harapan. Kami pun yakin. Sekitar duapuluh menit berjalan ternyata Sumber Mani tak ada juga. Jalan berbelok, disambut batu-batu besar dan akar pohon lagi. Jika tak jeli kami bisa terperosok dan terjepit di antara bebatuan. Dari belakang seperti ada yang menyusul. Kak Husain dan Kak Noufra rupanya. Mereka berlari secepat kilat menghampiri kami. Medan yang menantang justru yang menyenangkan, karena jelas-jelas tak ada lagi yang dipikirkan selain bertahan di sini. Beruntung jika besok pagi kami bisa sampai di puncak Mahameru dan kembali dengan utuh.
Kami semakin dramatis. Semakin dibuat penasaran. Di mana Sumber Mani berada? Mulai menemukan air yang sedikit sekali bercucuran dari batu. Bukan yang ini tapi di depan lagi. Pendaki lain dengan ramah mempersilahkan kami mengambil air. Di antara mereka juga yang sedang solat. Sekitar enambelas botol kosong kami isi. Segarnya air ini. Lebih bersih dari air danau Ranu Kumbolo. Tak ragu meminum langsung dan kembali memantikkan semangat lagi.
Segera kembali ke Kalimati. Berenam membawa botol-botol yang sudah terisi penuh. Sekarang sebaliknya. Menanjak. Menghantam pijakan bebatuan dan debu pun berhamburan. Perjalanan pulang terasa lama, mungkin hampir satu jam. Kami sempat istirahat dua kali dan meminum air yang dibawa. Aku berpikir bagaimana jika air ini pun habis sesampainya di Kalimati. Tapi tak apalah nanti juga terisi lagi.
Kak Madun—eh maksudnya Kak Mudin dan ikhwan lain rempong sekali, karena api unggun yang tak kunjung hidup. Akhirnya bara api pun menyala-nyala. Sampai pukul setengah delapan masih mendengarkan arahan. Kakak-kakak itu selalu berkali-kali menanyakan siapa saja yang akan summit nanti malam. HEBAT!!! Semua mengacungkan tangan.
“Yang mau ikut persiapkan dari sekarang, tapi jangan dipaksakan. Harus yakin.” Bang Ade dan Kak Azzami pun menjelaskan kondisi track sebenarnya menuju puncak seperti apa dan kami pun tak kalah antusias mendengarkan. Ada ini dan itu…. harus begini dan begitu…. ada poin blank atau jurang curam apalah itu. Orang sering tersesat saat menurun dan tak menghiraukan pemimpinnya. Bukan menakut-nakuti tapi memang faktanya seperti itu dan kami akan menghadapi kengerian ini.
“Ingat, puncak itu pilihan sedangkan menurun itu pasti,” tegas mereka.
Jam sepuluh malam berencana summit. Kami pun terlelap cepat setelah semua atribut lengkap. Sepatu, jaket, perbekalan, sarung tangan, syal dan kain buff yang tak pernah lepas di leher. Semua siap. Di tenda. Head lamp mulai redup. Saatnya mengganti baterai. Dingin yang tak biasa mulai lagi. Remang-remang. Seketika sepi. Semua mengharapkan perjalanan ini sempurna dengan penuh kerendahan hati di depan-Nya. Yang begitu kecilnya kami dan tak pantas pongah karena pernah menaklukkan ini dan itu.
Entah besok raga ini masih bisa bangkit atau tidak. Kematian yang akan selalu mengintai. Pasrah. Dan hati-hati kami yang akan selalu bertakbir memunji-Nya. Di banyak malam terus berdo’a karena terus saja merasa menakuti hal yang besar jika harus nekad ke puncak. Takut mati lebih tepatnya!
Sejak awal, sore hari di Kalimati guratan-guratan curam Mahameru bekas aliran lahar dinginnya sangat terlihat jelas. Pahit getir menuju Mahameru bukan karena ingin mengalami kejadian yang sama seperti kisah yang digembar-gemborkan di layar lebar. Jelas. Kami berbeda. Pertemuan tanpa basa-basi ini adalah takdir yang langka. Patut kami syukuri sebagai skenario termegah Penciptanya.
Semua yang menertawakan kita, mungkin akan berbalik berharap menjadi kita hari ini.[2]
Langit akan sangat indah mungkin esok pagi, ketika kita sampai di atas awan yang membayangi. Semoga kita akan selalu tahu diri. Tanpa mengingkari ujian perjalanan dan misteri. Jalanan akan terus berputar sampai akhirnya kita tahu ujungnya di mana. Selaksa harap yang ingin rasanya jadi nyata. Semoga saja.

Sabtu, Desember 07, 2013 Diposting oleh Unknown 0

[INGAT] 5 Dosa Para Pendaki Gunung WAJIB DI HINDARI

ADA sebuah anggapan bahwa mendaki gunung itu adalah sebuah tindakan yang keren dan gagah. Ada rasa bangga ketika sudah menginjakan kaki di puncaknya. Namun, sadarkah kita bahwa kita yang mengaku pecinta, ataupun penikmat alam, bisa jadi adalah seorang perusak alam?

1. Melakukan kegiatan pendakian massal (non-konservatif)

Mungkin kita sudah tahu tentang sebuah brand perlengkapan outdoor yang melakukan pendakian massal ke gunung Semeru beberapa waktu lalu. Saya sempat diajak teman karena dalam iklannya pendakian ini dibumbui oleh kata-kata bersih-bersih gunung, tanam pohon, dan konservasi.
Kenyataannya? Semeru menjadi tempat sampah dan potensi rusaknya ekosistem makin besar.
Sebelum mengikuti pendakian massal, ada baiknya survey terlebih dahulu. Berapa kapasitas gunung tersebut, berapa jumlah pendaki yang dibolehkan ikut oleh panitia, dan hal yang terkait dengan konservasi lainnya. Hindari penmas yang hanya mencari laba semata.
[hl]Jadilah pendaki yang bertanggung jawab.[/hl]
[hr]

2. Andil besar mencemari lingkungan

Biarkan mereka tetap pada tempatnya
Biarkan mereka tetap pada tempatnya
Saya pernah naik gunung dengan seorang rekan yang kelihatannya sudah ‘senior’ dalam hal mendaki. Namun, ditengah perjalanan istirahat, saat ia memakan sebuah makanan ringan, dengan ringannya pula ia membuang sampah itu sembarangan. Itulah potret kebanyakan pendaki yang tidak paham akan konservasi.
Apa sulitnya sih membawa sampah di dalam tas?
Di lain waktu, saat saya sedang ingin mengambil air di sebuah mata air, terlihat seorang pendaki yang sedang menikmati ritual B*B di mata air itu!
Apa dia tidak berfikir orang akan minum dari sana? Sebegitu sulitkah menggali lubang di tanah? Kucing saja masih bisa lebih pintar!
Dan banyak juga pendaki-pendaki yang masih saja menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa merusak. Jangan heran kalau menemukan bungkus sabun/shampo yang tergeletak dekat di mata air.

3. Bersikap acuh tak acuh dan pasif.

Menganggap tugas konservasi itu adalah tugasnya penjaga Taman Nasional, porter, dan LSM lingkungan. Padahal pendaki sendirilah yang punya bagian besar dalam menjaga lingkungan.
Juga tidak mengindahkan kearifan lokal yang telah ditetapkan masyarakat setempat. Tertulis ataupun tidak tertulis. Seringkali mitos-mitos mistis di gunung itu sebetulnya adalah usaha untuk konservasi dari masyarakat.
Jangan sampai bilang begini, ” Saya bukan pecinta alam, kok. Cuma penikmat alam. Jadi bukan tugas saya dong untuk konservasi?”
Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.
Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.

4. Merusak keasrian gunung

Tidak sulit menemui corat-coret vandalisme di bebatuan, batang pohon, bahkan pos pendakian. Mengambil flora & fauna langka seperti bunga edelweiss, bertindak sembrono sehingga mengakibatkan kebakaran hutan. Puntung rokok dan bekas api unggun yang masih menyala, membuka jalur yang tidak seharusnya, membuang tissue basah kotor seenaknya dan masih banyak lagi.

5. Tidak membagikan pengetahuan tentang pendakian konservatif

Tak dipungkiri, mendaki gunung sekarang sudah terkesan menjadi sebuah ‘wisata’. Apalagi banyak pengaruh dari acara televisi, film, blog, forum dan banyak media lainnya.
Membagikan semangat mendaki gunung kepada orang-orang baru tanpa dibarengi semangat konservasi hanya akan menjadikan para pendaki tersebut menjadi generasi pendaki yang cenderung antipati terhadap lingkungan dan hanya mementingkan kesenangan semata.
Sebagian dari kita mungkin pernah melakukan hal atas, secara sengaja maupun tidak sengaja. Yang pernah, tolong jangan diulangi lagi dan mari saling mengingatkan kepada rekan pendaki yang lain.
Semoga gunung-gunung Indonesia masih bisa dinikmati anak-cucu kita nantinya. Amin.
Salam lestari!
Ingatlah bahwa masih ada anak cucu kita.
Sabtu, Desember 07, 2013 Diposting oleh Unknown 0